Hi everyone, how have you been? I just realised that I haven’t been writing for too long now, and I’ve really missed writing. I promise to write regularly again as soon as I get the chance. Today, I’m just going to do some copying & pasting job :). This one is an article about Ivonne, written by Dahono Fitrianto for KOMPAS, just published yesterday (photo credit: Julian Sihombing). Enjoy reading!
![]()
PS: Oh, and of course I did Ivonne’s make-up for the photoshoot
![]()
Ketika Musik Memanggil…
DAHONO FITRIANTO
Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika semua orang belajar musik. Itulah keyakinan seorang Ivonne Atmojo. Maka ia pun memutuskan untuk menjalani hidup ini sebagai seorang guru musik.
Dan seperti guru-guru musik lain di belahan dunia mana pun, salah satu impian Ivonne adalah memiliki sekolah musiknya sendiri. Tempat ia bebas melatih, mengajar, dan menunjukkan kepada orang lain segala keindahan dan kekuatan musik dengan caranya sendiri.
Sebulan lalu mimpi itu terwujud dengan dibukanya Music Republicain. Sekolah, yang terletak di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan, itu tidak hanya mengajarkan musik, tetapi juga pengembangan kepribadian dan pembentukan citra diri seseorang. Itu sebabnya dinamakan The New School for Music and Image. ”Saya yang memegang bagian musik, sementara yang image itu diurusi adik saya,” tutur Ivonne (29) sambil mengajak Kompas berkeliling sekolah baru itu, Kamis (6/11).
Meski baru jalan dua bulan, Music Republicain saat ini telah punya sekitar 60 murid, yang berasal dari berbagai tempat, latar belakang, dan usia. Ivonne menerapkan prinsip “never too young and never too old to learn music“. Tak ada kata terlalu dini atau terlalu tua untuk belajar musik. ”Itu sebabnya muridku mulai dari anak-anak usia dua tahun sampai bapak-bapak umur 67 tahun,” ungkapnya.
Cita-cita Ivonne menjadi guru musik datang hampir bersamaan dengan kesadaran bahwa musik adalah jalan hidup yang harus ditempuhnya. ”Sejak kuliah di jurusan musik, saya sudah berkeinginan kembali ke Indonesia dan buka sekolah musik,” tutur pemegang gelar Master of Music dari San Francisco Conservatory of Music ini.
Padahal, pada awalnya ia mengambil jalur cita-cita yang sangat berbeda. Setelah lulus dari SMA Petra 2 Surabaya tahun 1997, Ivonne langsung meneruskan kuliah di Jurusan Biokimia, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.
Waktu itu musik masih sebatas menjadi hobi, yang sudah ia tekuni sejak kecil (Ivonne sudah memainkan piano sejak umur dua tahun). Sambil menekuni kuliah biokimia, Ivonne menyalurkan hobinya dengan mengambil kelas musik. ”Ternyata profesor musiknya tertarik dengan bakat saya di musik dan menyarankan untuk mengambil dua jurusan sekaligus,” tutur anak sulung dari dua bersaudara ini.
Saran itu diterima Ivonne sehingga mulai semester dua dia secara resmi kuliah di dua jurusan, yakni biokimia dan music performance. Semuanya ditempuh sampai lulus sehingga pada 2001 Ivonne telah menyandang dua gelar sarjana S-1.
Setelah lulus, ia masih berkeinginan menjadi seorang ahli biokimia dan memilih pekerjaan sebagai seorang analis laboratorium di Abbott Laboratories di Chicago. ”Siang bekerja di laboratorium, sore mengajar les privat piano dan vokal, dan terlibat dalam community musical theatre,” kenangnya.
Saat itulah ia mulai merasa bahwa panggilan hidupnya sebenarnya ada di musik. Ia mulai berpikir ulang untuk menekuni kariernya di dunia biokimia. ”Saya suka ilmu biokimia, tetapi benci pekerjaannya. It’s such a lonely job. Saya menghabiskan waktu sendirian di laboratorium sepanjang hari,” ujar Ivonne, yang masih berbicara dengan logat Jawa Timur kental.
Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan orangtuanya di Surabaya, Ivonne memutuskan meninggalkan laboratorium dan kembali masuk kampus untuk memperdalam ilmu musiknya. ”Waktu itu papa sempat menanyakan, kalau saya mengambil jurusan musik, ke depannya mau bagaimana. Saya jawab dengan mantap, saya ingin bikin sekolah musik di Indonesia,” tandasnya.
Apa yang membuat Ivonne begitu tertarik menjadi seorang guru musik? ”Musik adalah sesuatu yang sangat kompleks dan internal, namun sangat powerful. Sebagai guru musik, kita mengajarkan sesuatu yang tampaknya kecil, tetapi bisa mengubah hidup seseorang. Saling menginspirasi. Hubungan yang terjalin sifatnya sangat personal dan sangat rewarding,” papar perempuan kelahiran Surabaya, 16 April 1979, ini.
Tahun 2005 Ivonne meraih gelar S-2-nya dan langsung pulang ke Indonesia. Ia diterima sebagai salah satu dosen di Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan di Karawaci, Tangerang. Sambil membuka les privat piano dan vokal dan menjadi pengajar di beberapa sekolah musik, ia merintis pembangunan Music Republicain.
Tidak Harus Jadi Artis

Selain mengajarkan teori, sejarah, dan teknik bermain musik kepada murid-muridnya, Ivonne Atmojo juga rutin mendorong mereka untuk tampil di atas panggung. ”Pengalaman performing itu penting bagi setiap musisi,” tandasnya.
Itulah sebabnya, Ivonne membangun ruang konser khusus di bagian belakang sekolahnya. Mulai dari tampil solo ataupun bersama-sama dalam bentuk pentas musikal ala Broadway, para murid diberi pengalaman nyata merasakan pentas. ”Saat ini kami sedang mempersiapkan pentas Hairspray The Musical yang akan dipentaskan Desember nanti,” ungkap Ivonne.
Meski demikian, Ivonne tidak mengarahkan muridnya harus menjadi seorang penampil atau menjadi artis musik setelah lulus nanti. ”Setiap orang belajar musik dengan tujuan yang bermacam- macam. Tugas saya sebagai guru adalah mengetahui tujuan setiap murid dan mengarahkan mereka mencapai tujuan itu,” tutur pengarah musik Jakarta International Community Choir ini.
Ivonne sendiri merasa lebih nyaman dan bergairah saat mempraktikkan kemampuannya bermusik dalam rangka mengajar dibandingkan saat tampil di panggung.
Namun, tidak sedikit pula artis-artis musisi ataupun penyanyi yang sudah terjun ke dunia hiburan datang ke Ivonne untuk memperdalam ilmunya. Angga dan Dimi dari kelompok Maliq N D’Essentials, Delia (vokalis Ecoutez!), penyanyi Sherly O, dan pemain biola Maylaffayza adalah beberapa nama yang pernah menjadi murid Ivonne.
Latar belakang musik klasik yang dipelajari selama kuliah tidak membuat Ivonne canggung masuk ke dunia pop artis-artis tersebut. ”Jika sudah menguasai musik klasik, kita akan dengan mudah masuk ke musik-musik lain,” ujarnya. (DHF)

