Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/plugins/wp-statpress/statpress.php on line 347
© 2008 Ivana Atmojo

My First Tear Sheet!

ivonne-atmojo.jpg

Yay! I finally got my first tear sheet in Indonesia! For those of you who are not familiar with the term, tear sheet means the actual printed form of your work as an artist (in make-up, styling, etc) in magazines. In this month edition of Herworld magazine (page 30-33), you’ll find the herworld interview with Ivonne, beautifully written by Ari Anastasia. I did Ivonne’s make-up, so that makes her pictures my tear sheets :) So here are four scanned pages from the magazines. Below them, you can find the writings. Enjoy!

ivonne-in-herworld-1.jpgivonne-in-herworld-2.jpg

ivonne-in-herworld-3.jpg ivonne-in-herworld-4.jpg

herworld interview

Memilih menjadi GURU MUSIK

Perempuan lulusan S2 Master of Music ini meyakini bahwa musik dapat mengubah kehidupan seseorang tanpa ia sadari. “Jangan pernah merasa terlambat untuk belajar musik,” katanya. Oleh ARI ANASTASIA CHR

Siapa sangka musik klasik yang sepertinya identik dengan orang tua sudah mampu menarik perhatian anak-anak muda zaman sekarang? Ivonne Atmojo, M. Mus, contohnya. Perempuan kelahiran 16 April 1979, sudah sejak usia 2 tahun merengek-rengek minta dibelikan organ. Tangisannya membuahkan hasil. Organ idaman pun menjadi miliknya. Tak tanggung-tanggung, lagu anak-anak yang bisa ia nyanyikan, bisa juga ia mainkan di organ meskipun masih dengan satu jari. Lulus SMA pada tahun 1997, ia pun melanjutkan kuliahnya di Bachelor Of Science, Biochemistry, University of Wisconsin- Madison, USA. “Mengapa biokimia? Karena waktu itu saya suka sekali pada masalah rekayasa genetika,” jelas Ivonne. Namun, karena ia masih tidak dapat melupakan kecintaannya terhadap musik dan kerap mengikuti berbagai konser serta lomba, ia pun ditawarkan double major aleh seorang prafesor yang mengajarinya piano. Akhirnya, ia pun mengambil jurusan Music Performance di universitas yang sama. Beruntungnya Ivonne, sebab kedua orang tuanya sangat mendukung keputusan tersebut. “Orang tua saya memang cukup berpandangan liberal. Mereka sangat mendukung apabila anaknya ingin kuliah setinggi apa pun, asalkan ada kemauan dan kemampuan,” jelasnya. Dalam waktu cukup singkat yaitu tahun 2001, ia berhasil lulus dari kedua jurusan kuliah tersebut.

Fokus pada musik

Setelah lulus, Ivonne sempat bekerja pada Abbott Laboratory. “Ternyata saya hanya menyukai ilmunya, tapi tidak pekerjaannya. Setelah satu tahun bekerja di sana, saya menyadari pekerjaan researcher sangat lonely. Setiap hari, saya hanya berhadapan dengan laboratorium dan kimia. Akhirnya tahun 2002, saya keluar dari pekerjaan tersebut dan mengambil kuliah S2 jurusan Master af Music, Piano. Performance, San Francisco., Conservatory of Music. Kebetulan selama bekerja di Abbott Laboratary saya masih menyempatkan mengambil beberapa kelas seperti choir, vocal, dan kelas piano di Chicago. Saya benar-benar mempersiapkan diri sebelum masuk sekolah S2, karena saya harus melalui audisi dan beberapa ujian,” ujarnya. Seakan belum cukup, setelah menyandang gelar Master of Music, ia masih mempelajari ilmu pedagogi agar bisa menjadi guru. Sewaktu Ivonne sudah memutuskan untuk fokus menekuni musik, sang ayah sempat bertanya mengenai rencana hidupnya. Dengan yakin, Ivonne pun menjawab bahwa dia akan membuka sekalah musik. “Dengan ilmu musik yang saya miliki, jujur saja saya tidak pernah ingin menjadi artis. Dari dulu, saya sudah sangat suka mengajar, baik vokal maupun piano. Saya pun sering bekerja sambilan sebagai guru. Selain itu, saya memang tetap ingin menjadi business person kok,” tegas perempuan penggemar nasi pecel dan papaya milk ini. Maka pada tahun 2005 sepulangnya dari Amerika, jadilah ia searang dosen musik di Universitas Pelita Harapan (UPH). Sebelumnya, ia pun sempat merasakan mengajar di beberapa tempat seperti Sekolah Bina Nusantara dan Sekolah Musik Kawai.

Musik klasik dan kehebatannya

Mengapa Ivonne begitu yakin dengan musik klasik? Rasanya di Indonesia, musik klasik tidak banyak memiliki penggemar ya? Menurut perempuan yang mengidolakan Barbra Streisand ini, musik klasik merupakan dasar dari segalanya. Apalagi jika seseorang ingin menguasai sebuah instrumen musik. “Musik klasik sudah ada sejak abad ke-17. Setelah itu, barulah diikuti dengan musik jazz yang merupakan perpaduan antara musik klasik dan Afrika. Kemudian muncul musik pop. Semuanya saling berkesinambungan. Jika Anda ingin mempelajari salah satu bagian saja atau secara kilat langsung menuju ke suatu bagian yang diinginkan, maka hasilnya akan terlihat kasar,” katanya. Kemampuan yang dimiliki perempuan yang telah menggelar konser debutnya pada Java Jazz 2007 lalu ini, bahkan diminati oleh beberapa artis yang ingin memperbaiki teknik vokalnya. Antara lain Angga, vokalis dari Maliq n D’essentials, dan Dimy Hapsari. “Belum sampai setahun mempelajari teknik klasik, Angga sudah merasa performa menyanyinya meningkat sampai 60%,” jelas Ivonne. Selain itu, Ivonne menekankan pada penyanyi pentingnya menjaga kesehatan tubuh, misalnya tidak minum alkohol, tidak begadang, dan tidak merokok. Nah, setelah seseorang mempelajari teknik klasik, maka ia bisa mengembangkannya dengan aliran musik manapun yang disukai.

Metode pengajaran yang menarik

Ivonne mengakui (dan dirinya pun mengalami ketika ia masih berusia 4 tahun) bahwa anak­-anak Indonesia yang ingin belajar alat musik lebih sering mengalami pemaksaan atau sekedar menuruti kehendak orang tuanya. “Misalnya, saat belajar piano kita langsung disuruh duduk dan diajari tangga nada. Di mana saja, buku­-buku yang diigunakan sama, sehingga pelajaran pun terasa sangat membosankan. Bukannya tertarik, anak-anak lebih sering tertekan ketika mempelajari musik,” jelasnya. Karena itulah perempuan yang pernah memperoleh beberapa penghargaan seperti Most Distinguished Musician Award, “International Piano Competition” dan Special Mention “International Jazz Vocal Competition” di Sisilia, Italia ini, bertekad memberikan metode yang menarik bagi setiap anak muridnya. “Di Amerika, ada early childhood music education, di mana anak berusia 2 tahun pun bisa belajar main musik. Mereka tidak langsung diajak belajar, melainkan bermain dan bertepuk­-tepuk tangan. Mereka diajarkan untuk merasakan ritme musik dulu. Penting sekali membangkitkan rasa suka anak secara internal dan bukan hanya secara visual,” ujar Ivonne. Khusus untuk anak muridnya, Ivonne rajin membawa mereka untuk sering terlibat dalam pertunjukan musik. Dalam setiap event-nya, Ivonne selalu melibatkan beberapa murid yang bisa mengiringi koornya yaitu JICC (Jakarta International Community Choir). Kebetulan Ivonne berperan sebagai music director di dalam koor yang dipenuhi kaum ekspatriat itu. “Anak-anak mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan musiknya lebih dalam. Mereka bisa bermain musik jazz, pop babkan daerah. Selain kepercayaan diri bertambah, mereka juga tidak merasa bosan karena belajar musik klasik terus-menerus,” jelasnya sembari tersenyum. Ivonne menyadari, ia tidak bisa mengharapkan semua orang untuk memberikan apresiasi yang besar terhadap musik klasik. “Semua tergantung dari gurunya,” katanya yang telah berhasil mempremierkan “Passengers The Musical” pada bulan Juni 2007 lalu. Dalam drama musikal tersebut, ia melibatkan beberapa murid, artis ternama, dan koleganya. la pun menulis dan menyutradarai sendiri pertunjukan musik tersebut.

Khasiat musik bagi hidup

Ivonne percaya bahwa musik adalah sesuatu yang abstrak dan bisa mempengaruhi diri seseorang. Ia juga berkata “Music education is always an optimistic way to look at life.” Pengaruh itulah yang membuatnya yakin untuk menjadi seorang guru dan menginspirasi orang lain. “Saya tidak akan bisa melakukannya dengan sekejap pada semua murid. Namun dengan pendekatan komunikasi dan persahabatan yang dibangun, saya berharap kami bisa saling bertukar pikiran yang mungkin bisa berguna suatu hari nantinya,” jelas anak dari pasangan Wijoyo Atmojo dan Lany Sugianto ini. Ivonne pernah mendapat murid yang telah dioper ke sana kemari oleh beberapa dosen, karena si murid sangat malas dan selalu tidak lulus. Ternyata, setelah dibimbing Ivonne, murid tersebut memiliki keinginan untuk rajin belatih tanpa diperintah. “Sebagai guru, saya merasa telah sedikit memberikan ia inspirasi untuk lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain,” tutur Ivonne lembut. Hal itulah yang juga terjadi pada dirinya sewaktu kuliah. “Ada seorang profesor yang mengajarkan saya piano. Kami bertemu setiap satu minggu sekali selama 4 tahun. Bagi saya, dia bukan saja guru piano, melainkan juga orang tua yang membantu saya tumbuh dan berkembang di saat saya sedang mengalami pencarian jati diri,” ungkapnya penuh haru. Percaya atau tidak, jenis musik yang Anda dengarkan, juga akan mempengaruhi pembawaan diri Anda. “Because music is your everyday life,” kata perempuan yang juga sempat menggelar konsernya di Carnegie Hall, New York, bersama 10 orang pemenang lainnya dari kompetisi musik internasional di Italia tahun 2006.

Happy mengajar

Selama menjalani kariernya sebagai guru, Ivonne hanya menginginkan agar murid-muridnya bisa lebih disiplin. Perempuan yang selalu terlihat optimis dan berpikiran positif ini tidak pernah menjadikan halangan sebagai hambatan. Ivonne malah menganggapnya sebagai tantangan. Ketika ditanya mengenai sebagian besar penyanyi muda Indonesia yang kelihatannya lebih banyak memperhatikan segi komersial ketimbang teknik menyanyinya, Ivonne hanya tersenyum rendah hati. “Jika ada market-nya dan dia bisa menghasilkan banyak uang, why not? Selama itu tidak melukai penyanyinya,” ujarnya singkat, “yang pasti dengan belajar musik, there is always room to improve.” Perempuan yang juga menggemari broadway musical ini meyakinkan, dengan metode yang tepat tidak pernah ada kata terlambat bagi seseorang untuk belajar musik Lalu, apakah Ivonne pernah melakukan kesalahan selama pertunjukan musik? “Hahaha … there is no perfection. Saya pasti melakukan kesalahan sedikit, tapi tidak pernah sampai lupa sama sekali hingga terdiam,” ujarnya ceria. Bahkan Ivonne juga menekankan pada semua muridnya bahwa wajar saja jika mereka merasa grogi ketika akan melakukan pertunjukan musik. “Itu sangat manusiawi, saya juga selalu nervous kok. But it’s part of the excitement of performing. Saya ajarkan mereka melakukan trik ketika lupa di atas pangung. Semakin sering tampil, maka ia akan semakin pandai untuk berbohong menutupi kesalahannya,” ujar Ivonne tergelak Bagaimana dengan kehidupan seorang guru musik di Indonesia? “Seorang artis pop cenderung populer secara musiman. Mereka masih harus berpikir, harus melakukan apa jika dirinya sudah tidak laku lagi? Nah, guru musik seperti saya, bisa ke mana saja, any part of the world untuk mengajar. Namun tergantung cara belajarnya juga, kalau cuma les musik biasa, yah akan sulit untuk menjadi guru musik profesional. Karena itu, sebelumnya tentukanlah dulu tujuan Anda belajar musik. Sesuaikan juga dengan kepribadian Anda. Lagi pula saya selalu berpikir bahwa di balik artis, selalu ada guru yang hebat, meskipun jarang terlihat,” jelas perempuan yang hobi olahraga bulutangkis ini. Tidak sabar ingin segera belajar musik pada Ivonne? Tunggu saja! Karena sekitar bulan Maret 2008, sekolah musiknya akan resmi dibuka di bilangan Fatmawati, Pondok Labu. Di belakang gedung tersebut, Ivonne bahkan juga membangun concert hall, sebagai tempat pertunjukan bagi murid-muridnya. “Saya selalu ingin membuat broadway musical. Karena hanya dengan pertunjukan broadway, semua ilmu musik bisa dipadukan dan dipertunjukkan,” jelas Ivonne tersenyum bangga. HW

6 Comments


  1. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 735
    Nina Ishak
    Posted January 5, 2008 at 8:32 pm | #

    COngratulations for ur first tear sheet, Ivana!

    My Mommy looks B.E.A.U.T.I.F.U.L =)

    still waiting for ur second tear sheet!

    :D


  2. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 737
    wenny.s.a
    Posted January 9, 2008 at 7:28 pm | #

    i just wanna say “congratulations ms.ivana 4 ur first tear sheet!! aku lagi marah2 sendiri karena gak dapet2 “HERWORLD” nya,,,,
    bet anyway,,,ms.ivonne looks sweet,,//
    i realy miss her and u,,,
    congratulation ms.ivana,,
    thx - w e n n y -


  3. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 735
    Phat Gun
    Posted January 15, 2008 at 3:40 pm | #

    Congratz cuzz, havent seen u for a long time I heard u hit it big!


  4. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 737
    budi
    Posted February 8, 2008 at 2:18 pm | #

    cicik ivone sangat keren banget, saya mau ikut skul music disana gimana caranya?


  5. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 737
    aurelia
    Posted July 18, 2008 at 4:08 pm | #

    tx to God, cerita hidupnya keren banget.
    jadi inspirasi nih buat kehidupan kedepan saya hehehe.


  6. Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 734

    Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/themes/autofocus/functions.php on line 737
    Bradley Tolentino
    Posted October 22, 2008 at 4:28 pm | #

    congratulations Ivana on ur 1st Tear Sheet,,, keep it up.. more power!