Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/iatmojo/ivana-atmojo.com/blog/wp-content/plugins/wp-statpress/statpress.php on line 347
© 2007 Ivana Atmojo

Ivonne In Sindo !


There was a half-page coverage of Ivonne in Seputar Indonesia edisi cetak last Saturday, beautifully written by Muhammad Fauzisyah. As you see there are 2 separate articles: one on the right (with the picture of Ivonne in teal); and one on the left (that’s Ivonne at the back and me at the front).

I’m only able to find the online version of the main article, so here it is….Enjoy reading!

Musik Meningkatkan Disiplin Diri
Sabtu, 01/12/2007

BANTING setir dalam karier bukan perkara mudah. Begitu pula dengan Ivonne Atmojo. Dari seorang peneliti biokimia, menjadi master di bidang musik, pemain piano andal. Perkenalkan, Ivonne Atmojo.

Dara kelahiran 16 April 1979 adalah seorang music director. Grup musik yang tengah digandrungi penyuka genre jazz, Maliq & D’Essential, merupakan salah satu hasil didikannya. Belum lagi deretan prestasi bermusik yang memenuhi curriculum vitae-nya. Antara lain, peraih tiga besar Piano Concerto Competition Madison, Wisconsin, Amerika tahun 1998. Pada tahun 2004, dia juga mendapat nominasi festival film indie tahunan untuk soundtrack film yang ia buat.

“Tapi kalau prestasi yang paling memorable saat di Sicily, Italia,” sebutnya. Saat itu dia berhasil menjuarai dua kategori sekaligus Special Mention International Jazz Vocal Competition dan Most Distinguished Musician Award International Piano Competition tahun 2006 lalu. Prestasi itu jugalah yang membawa konser pada bulan April yang lalu sebagai hadiah yang diberikan penyelenggara kompetisi tersebut.Tepatnya di Carnegie Hall New York, Amerika dengan judul IBLA Winners Concert. Prestasi ini, tentunya tidak akan ada di tangannya, seandainya ia tak berani memutuskan arah karier yang ingin ditempuhnya.

“Dulu aku sangat tertarik dengan rekayasa genetika,” ujarnya. Ketertarikan tersebut membawanya ke University of Wisconsin, Madison, Amerika. Pada saat itu, meski dia suka bermusik, menjadi ilmuwan akan lebih menjanjikan masa depan hidupnya. “Makanya, aku memilih kuliah biokimia, tapi baru jalan 1 semester, salah satu profesor musik di sana (University of Wisconsin) menyadarkanku kalau duniaku yang sebenarnya harus ditekuni adalah musik,” tuturnya. Ia tak menyangkal bahwa butuh ekstra tenaga dan disiplin untuk menyelesaikan dua major yang berbeda itu dalam waktu yang bersamaan. Dua hal yang sebenarnya sangat berbeda jauh, tapi malah membuatnya sampai saat ini banyak dikenal orang dalam dunia musik.

Awal Ivonne terpeleset ke dunia musik sebenarnya tidak mengejutkan, sejak umur dua tahun wanita bergelar Master of Music,Piano Performance ini sudah merengek ke orangtuanya untuk dibelikan organ, dan ia mulai bisa memainkan banyak lagu anak-anak pada saat itu. “Umur 4 tahun baru aku mulai belajar musik secara akademis,” cerita wanita yang sengaja mengambil dua kuliah karena merasa ada panggilan jiwa ini. “Tiap minggunya aku menguasai satu lagu anak-anak tanpa partitur,”kenangnya. Walaupun ia juga memiliki gelar bachelor of science biochemstry, bukan berarti wanita yang masa SMA-nya sering mengikuti lomba matematika dan fisika ini tidak mengaplikasikan ilmunya dalam pekerjaan.

“Aku sempat setahun kerja di perusahaan yang bergerak di bidang biokimia sebagai peneliti,” ujar wanita yang dulunya bekerja di laboratorium Abbott, Chicago, Amerika. Akan tetapi, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya di mana ia harus bekerja dalam suatu ruangan yang sepi dan meneliti banyak hal tanpa bisa berkomunikasi dengan orang-orang. “Bahkan, sama teman satu laboratorium yang cuma beberapa orang itu saja aku jarang sekali ngomong,” keluhnya.

Saat itulah dia mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang Strata-2 gelar music performance-nya di San Fransisco Conservatory of Music pada tahun 2002.Tahun 2004 dia menyelesaikan kuliah lanjutannya dan kembali ke Indonesia pada tahun 2005. Alasan itu pula yang membuat dosen sekaligus guru piano di Universitas Pelita Harapan ini merasa pengorbanan terbesarnya adalah meninggalkan dunia biokimianya untuk berdedikasi di dunia musik.

“Tapi itu bisa dibilang pengorbanan besar apa enggak ya?” tanyanya sembari tertawa dan memeluk anjing mungil bernama Coco kesayangannya itu. “Mungkin karena aku melakukannya dengan suka hati, jadinya aku tidak merasa menyesal melakukannya,” tambahnya seraya menambahkan kalau dia jadi sedikit kekurangan waktu untuk bermain-main saat menekuni bidang musiknya dulu. Selain itu,masih banyak lagi pertunjukan yang pernah diikutinya dan diselenggarakannya. Misalnya, beberapa bulan yang lalu dia menggelar konser bertajuk Ivonne’s Jazz Concert Debut pada Java Jazz Festival di Jakarta, atau seperti konser amal untuk Afrika di Italia. Sepak terjangnya di negaranegara lain juga masih setumpuk, baik sebagai penyanyi atau bermain piano.Misalnya di Taipei,Hong Kong,San Fransisco, California dan Illinois. (CR-14)

Acknowledgment: Muhammad Fauzisyah (Oji), a young, enthusiastic, & extremely talented journalist. Kudos to you & looking forward to reading your upcoming writings!